Selamat Mudik 2018

google

Lagi asyik-asyiknya baca blog, pas mau gugling (bukan guling ya, wkwkwk) si mbah google udah berubah tampilannya. Mobil berderet-deret diatas jalan raya dengan background monumen nasional, monas jakarta. Fiuuuh tau aja kalo mulai kemarin udah rame jalanan menuju ke timur (jawa).

Saya sendiri tahun ini juga mudik, tapi berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya mudik ke rumah ortu. Kali ini (besok tepatnya) mudik ke wilayah Garut (masih jawa barat sih, tapi mayaan jauh -_-). Rencananya naik bis *siapkan pinggang*

Hmmm apa kabar ramadhan? sedih banget rasanya ramadhan kali ini berasa un-produktif. Lebih banyak leha-lehanya daripada rajinnya.

Bulan Ramadhan pengennya off dari segala keduniawian (apa nih bahasanya -_-) jadi macam toko-toko yang keren itu. Mereka off jualan full 30 hari selama bulan Ramadhan. Berkaca pada diri sendiri malah ngebuut jualan (walaupun hasilnya hanya naik beberapa unit dari bulan lalu). Jualan apa sih nik? ituu boneka hafizdoll dan buku premium jutaan harganya, hehehe.

Oia, ada buku keren yang baru saya baca. Walupun kudet bin telat bin ‘kok baru tau sih? ih kunoo’ wis biarin ajalah yang penting beres baca kemarin wkwkwk. Buku apaaa?

Well, judulnya montessori ^^

Saya suka banget dengan filosofi montessori dan entah kenapa ngena banget gitu dengan apa yang saya butuhkan saat ini.

Buku kedua yang saya pesen (stoknya kosong -_-) yaitu The Danish Way. Tapi belum datang dan lagi-lagi pas ngisi invoice stoknya kosong lagii. Buku laris banget kayak kacang goreng :3

Sekarang saya lagi nuntasin baca buku Prof. Rhenald Kasali yang terbaru : Self Disruption. Buku keren dan wajiib baca bagi para pebisnis nih.

Lha judul blog ini mudik, napa ngobrolin buku? -_-

Well ya ya… saya gabisa lepas dari aktifitas beli dan baca buku. Secanggih-canggihnya konsep minimalis entah kenapa saya lebih suka dan seneng baca buku asli daripada ebook (terkesan kuno yak wkwkwk gpp yang penting baca buku) *menduga sendiri, jawab sendiri xixi

JAdiii kalo mudik nih apalagii perjalanan panjaang dan (sepertinya) melelahkan, daripada bete di jalan sebaiknya baca buku aja. Bawa buku. Kenapa? karena -entah kenapa- akhir-akhir ini gakuat baca gadget terlalu lama. Bisa ‘pedes’ mata. Kalo buku sih kuat dan enak, walaupun kalo jenuh juga bisa lelah mata.

Okeh. Mudik ke garut fix, bismillah. Kampung halaman suami. Katanya sih dingin, mirip-mirip puncak Bogor tapi lebih dingin. Namanya Cikajang deket gunung salak, kampung sayuran nama desanya.

Okeh, selamat mudik. Fii amanillah untuk semua.

Iklan

Juni 2018

Hai..hai..hai… berasa ga produktif lagi nih, lama ga ngepost tulisan di blog. Terakhir cuma review singkat bukunya ka A.Fuadi.

Apa kabar Nik? *nanya ke diri sendiri

Jadi, hari ini udah masuk tanggal 1 juni. Artinyaaaa sebentar lagi lebaran. Oia, hari ini masuk hari lahirnya pancasila. Selamat ultah ya pancasila semoga semakin merekatkan keberagaman di negeri ini.

Plus hari ini adalah hari ke-16 shaum Ramadhan. Sudah separo perjalanan 😦 ngga terasa banget *apa karena akunya yang kurang target?

Oke, random aja kali ini saya mau membahas sedikit aktifitas beberapa hari ini.

Pertama, saya lagi rajin nge-decluttering digital termasuk media sosial. Dan alhamdulillah sudah berjalan 50%.

Kedua, saya lagi rajin mengeluarkan pakaian yang udah ngga spark joy walaupun awalnya saya keep ternyata kini udah ga nyaman lagi. Jadilah beberapa hari ini mendonasikan sekantong pakaian. *dikit sih, karena baju yang di lemari juga dikit πŸ˜€

Ketiga, sedang menata ulang komunitas yang saya bangun. Komunitas KonMari INdonesia.

Oke, mungkin itu aja postingan un-faedah ini. Harapannya di Ramadhan bisa kejar 10 hari terakhir dan selesai segala target. Amiin.

*(kembali ke laptop.

keep ontrack

Daily Dose of Shine

Buku ini baru datang tanggal 23 Mei kemarin lusa, pas beres buka puasa dan sholat maghrib. Seharian agenda padat dari pagi hingga sore, akhirnya kepala nyut=nyutan kurang cairan (ya iyalah lagi puasa hahaha). Beres iftar masih rada pusing juga, akhirnya nerima paket buku dengan sedikit tergesa. Siapa tau ada obatnya.

Paket yang datang ngga hanya satu buku ini, tapi ada buku ka Fuadi yang lain. Saya beli (lagi) buku negeri 5 menara dan lanjutannya (3buku) serta buku beasiswa 5 benua. Paket yang satunya bukan buku, melainkan sedotan stainlis. Hihihi

Buku pertama yang saya buka adalah Daily Dose of Shine ini. Hardcover dan full colour, cukup mengobati kepala yang lagi migren.

Beres baca buku ini sakit kepala mulai berangsur pulih, ajaib ya! hahaha yaa emang obat sakit kepala saya biasanya baca buku baru dan buku yang menyenangkan.

Apa isinya?

Ngga jauh-jauh dari novel ka Fuadi, isinya quotes yang ada di novel yang diilustrasikan. Sangat menarik, ringan dan pas banget menemani sehari-hari. Karena memang jarang (atau belum ada?) buku yang berisikan quotes aja di Indonesia. Biasanya quotes kan hanya menemani buku-buku fiksi atau non-fiksi, bukan sebagai pusat perhatiannya.

Isi buku ini berupa pepatah arab dan non-arab bahkan anonim yang mampu menggugah semangat berbuat kebaikan dalam keseharian.

Cocoklah, dosis harian ini. Karena saya ga perlu lagi gugling, search atau menulis ulang (di buku diary- udah lama ga berdiary dan ga pernah menynetuh diary- hilang).

Quotes yang paling saya suka adalah “berbuat baiklah, lalu lupakan dengan melemparkannya ke laut” (Pepatah Palestina)

 

Oiaaa, ada bonusnya jugaa yaitu jurnal harian. Bisa kita jadikan notes sehari-hari.

Penampakan jurnalnya, imut-imut gitu..

Okeh, sekian aja dari saya. Mau nulis panjang tar malah jadi cerpen hehehe. Intinya saya suka buku ini, untuk mengenalkan ke anak remaja juga asyik. Ringan tapi poinnya dapat.

Ngomongin poin, saya rekomendasikan 9/10 yaa untuk buku keceh diatas.

Dagh~

Untuk Shokyuu Batch 1

IMG-20180122-WA0067

Hai mina-san, konbanwa. Mendadak menuliskan post disini sebagai sambutan pada para wisudawan dan wisudawati yang malam ini berkumpul bersama dalam satu grup ‘graduation’. Banyak hal yang ingin saya sampaikan malam ini, namun saya membaginya menjadi 3 poin saja.

Pertama, sebagai pemateri sekaligus tim pemateri saya sampaikan terimakasih kepada semua yang telah mendaftarkan diri di batch 1. Jumlah peserta pendaftar ada 162 peserta, namun saya hitung di google classroom terdapat 166 peserta (mungkin ada yang double email atau double masuk ya, ini menjadi evaluasi terkait classroom). Adapun tentang materi, saya membutuhkan feedback dari teman-teman semua. Saran dan masukan bisa email ke nikmah11@gmail.com yaa saya tunggu segera πŸ™‚

Kedua, tentang peserta yang lulus dan belum lulus. Saya yakin semua peserta kelas intensif mendaftarkan diri di awal untuk berkomitmen tuntas dalam berkonmari. Baik yang sudah tuntas di awal maupun yang akan tuntas pada kelas ‘remedial’ mendatang saya sampaikan ‘ganbarimasyou!’ segala proses yang telah dikerjakan ngga akan pernah mengkhianati hasil. Bedanya, hasil di shokyuu ini ngga bisa dinilai dengan angka-angka, hanya teman-teman semua yang mampu merasakannya, maka nikmati prosesnya, perjalanan masih panjang. Untuk semua peserta batch 1 tetaplah menjadi keluarga batch 1, oleh sebab itu bagi yang remedi nanti tidak akan kami campur dengan batch 2. Keep fightung ya πŸ™‚

Ketiga, tentang keberlanjutan level. Dengan menimbang, melihat dan mencoba berhitung maka selama 2 pekan ke depan saya berikan kesempatan teman-teman yang ingin lulus shokyuu dan naik di level chukyuu untuk mengikuti proses remedial. Adapun yang merasa tidak terkejar selama 2 pekan ke depan maka nanti mengikuti kelas khusus batch 1 yang mengulang 1x. Bagi yang tidak ingin remedi maupun tidak mengambil kesempatan mengulang, kami akan memperbaiki akad di awal.

cropped-report.png

Sekali lagi, selamat kepada 93 peserta yang lulus malam ini πŸ™‚ dan semangat bagi peserta yang akan mengikuti remedial.

Salam, spark joy. Menata diri, Menata Negeri.

“There’s no reason to hold yourself back and say you can’t do something in life unless you go for it and try to do it.” – Russel Westbrook.

Target Baca

Banyak buku baru di rumah, yay!! Tapi.. masih ada (banyak) buku bulan sebelumnya yang belum sempat saya baca… *)tetiba hening, krik,krik

Idealnya sehari bisa kelar satu buku, atau minimal sepekan dua bukulah… idealnya begitu, namun apa dayaa…diri ini cepat sekali merasa lelahhh. Padahal kalo mau membandingkan mobilitas padat dan cepat justru jaman jomblo dulu aktifitas bejibun ngga berhenti-brenti tiap hari. Jalan kaki pun dilakoni dari kosan-kampus-ngelesi dan nyari tambahan uang untuk kebutuhan hidup.

Sekarang? enak dong didalam rumah, main sama anak, seharusnya lebih banyak waktu luang untuk membaca, ya kann..ya kannn… *meyakinkan diri sendiri

Faktanyaa? bangun pagi, tidur terakhir hingga larut malam. Hanya bisa begadang sendirian seperti ini. Kerjaan juga ngga habis-habis, bukan masalah domestik sih, domestik mah biasa aja tapii amanah se-abrek abrek ini yang membuat diri yang lemah multitasking ini harus berfikir dan bertindak akurat. Hitung-hitungan waktu. Padahal… ibadah juga ngga rajin amat 😦

Sebentar lagi Ramadhan, semoga semua deadline diri ini segera selesai. SYukur-syukur bisa khusyu’ beribadah sebulan penuh.. dan menuntaskan target baca.

Bulan Mei ini ada sekitar 10 buku yang harus saya tuntasin. Supaya ngga jadi beban pikiran πŸ˜€ dan supaya bisa beli buku lagi dan baca buku lagii hihihihi..

Yuuk baca buku, biar anak juga terbiasa baca.. minimal suka sama bukunyaa πŸ˜€

Note : di rumah ngga menyediakan TV, maka setiap hari hanya buku yang menjadi hiburan kami.

IMG_20180331_124430

Sulitnya Multitasking

Bulan ini banyak deadline, banyak janji yang harus saya penuhi. Gak seperti jaman jomblo, semuanya longgar bebas dan tenaga super full energy. Sekarang tantangannya banyak. Terpenting perut ngga keroncongan, aman.

Bulan April jarang nulis, seringnya baca aja. Ngedraf iya, tapi ngga kelar kelarr. Jadi yaa gini gini aja tiap hari, sok multitasking padahal roaming wkwkwk

Well, saya ngga sejago suami yang bisa ngerjakan banyak hal dalam satu waktu beres semua. Hasil test bakat ditalents mapping saya nih orang focus, jadi klo dipaksa multitasking bakal buyar semua 😭

itulah kenapa kalo saya nyuci, maka gak bakal beres masakan di dapur. Padahal tinggal putar mesin, tinggal beres. Logikanya gitu. Kenyataannya tiap coba masak, nyalai mesin cuci yang ada itu mesin jadi ngadat (nggatau apa salah saya πŸ˜‚) atau kebanyakan sabunlah, tumpahlah dll. Pun sebaliknya, nyuci oke, masakan ngga matang (dan lebih banyak gak enaknya).

Kemarin, pas suami dinas ke semarang dua hari..saya coba bikin kue bolu untuk anak. Hasilnya gosong 😭 dan anak ngga suka rasanya.. #mubazirdeh

So, saya atur lagi ini trial & error tiap hari sampai menemukan pola yang pas khusus diri ini yang sulit multitasking.

Next time saya bahas lagi. Beberapa udah saya share sih, salah satunya menggunakan post it atau daily whiteboard. 

Selanjutnya pakai jurus lain. Kapan kapan dibahas kalo akurasinya udah pas. Tapi bisa cocok di saya belum tentu cocok untuk oranglain, kan kebanyakan makmak justru keren tuh multitaskingnya ❣️

Oke, agenda bulan ini lebih banyak seremonial. Semoga sehat selalu. amin

Seminar Fitrah Based Education

Pada hari Sabtu tanggal 28 April 2018 lalu saya hadir di acara yang seru dan penuh ilmu. Sekaligus datang dalam rangka wisuda matrikulasi batch 5, yay! lulus!

Berangkat pagi bersama suami dan anak naik mobil online, perjalanan sekitar 1jam sebab berhenti-berhenti. Di SPBU dan juga Alfamart. Sampai di lokasi (gedung Inovasi LIPI Cibinong) saya ngga langsung naik, ngobrol dulu sama teman dari kelas lain. Kemudian naik sekitar jam 8 siap untuk mengikuti agenda seminar, namun suami ngga ikut seminar jadi bermain sama anak di luar – sebab anak kami ngga bisa duduk diam didalam ruangan. Maka hanya saya saja yang masuk mengikuti seminar penuh dari jam 9 pagi hingga jam 2 siang. Tapi beruntung, didalam ruangan langsung ada teman sekelas (duduk jejer mba Wulan dan Ulul -miip klas 2).

Acara dibuka dengan ‘ice breaking’ game mencatat nama dan tanggal lahir peserta, saya dapat 10 orang dan ternyata dapat doorprize brupa bangnana chip (nyummyy~ asiik) kemudian dilanjutkan sambutan oleh ketua IP Bogor, Mba Finny.

Sebelum proses wisuda Ust. Harry menyampaikan sepatah dua kata. Beliau mengatakan lebih enak menyebutkan kata ‘ibu sejati’ untuk kami. Kenapa? sebab tugas atau peranan ayah/ ibu sejati adalah mengantarkan generasi sesuai dengan peran dan maksud sejati hidupnya (meaning of life).

Dan acara yang ditunggu sebagian besar peserta adalah prosesi wisuda~ yayy!! *)backsound lagu graduation πŸ˜€

Dimulai dari klas bunda sayang dan dilanjutkan oleh klas matrikulasi (kelas 1,2 dan 3). Disini saya deg-degan memberikan testimoni proses selama belajar matrikulasi. Walaupun mendadak, efek semalaman ngga prepare, paginya dilanda perut mules juga (berhenti=berhenti di jalan -_-) maka dua menit pun agak zonk! wkwkwk. Tapi intinua dapetlah hehehe. Intinya saya seneng bisa naik kelas, tar lanjut di bunsay amiin.

IMG-20180428-WA0067

Wisuda beres, poto-poto maka acara inti pun berlangsung, cukup seru. Dimoderatori oleh Mba Athy, Ust. Harry memaparkan dari fakta jaman now. Apakah ituu? yap, tentang perceraian!!

Saya sendiri ngga heran oleh fakta itu, sebab ayah ibu saya pun bercerai saat usia saya dua tahun, sik bayik, HEhehe. Pun saudara, teman dan beberapa kenalan yang saya kagumi juga endingnya banyak yang bercerai. Ngga kenal sholeh or sholeha, perceraian itu momok banget kok. Saya mengenal salah satu penulis terkenal- anaknya bunda Pipit Senja- yang menikah muda, semester awal di UI sudah punya 3 anak ternyata tahun lalu bercerai. Ngga tau apa penyebab intinya semua kalangan bisa melakukannya.

Menurut Ust. Harry terdapat 2 poin penting penyebab perceraian, yaitu tidak adanya misi dalam berumah tangga dan tidak ada proses pendidikan didalamnya.

Misi itu penting sebab ia ajeg dan mengantarkan seseorang pada nilai kehidupan. Ngga akan mati jika visi gagal, sebab masih banyak jalan. Dan proses pendidikan (saya dan suami menyebutnya ‘pembinaan’ klo didalam rumah :D) sangat menentukan peran dan aktifitas setiap anggota keluarga. Ust. Harry mengatakan, “memang agak miss, setiap orangtua mengharapkan anaknya baik dan sholeh setelah keluar dari gerbang sekolah, sedangkan sekolahan mengharapkan anak-anak siap menerima ilmu (adabnya, akhlaknya udah okeh dari rumah) setiap masuk kedalam pintu gerbang sekolah. Ngga match!”

Apabila peradaban barat mengatakan anak harus mandiri (termasuk biaya sekolah mencari sendiri) pada usia 12 tahun (jews) sebab tuntunan nilai kehidupan mereka. Islam pun memiliki rambu-rambu dalam masa akil baligh yakni usia 15 tahun. Jadi, setelah anak berusia 15 tahun, segala harta yang kita berikan padanya jatuhnya adalah sedekah untuk anak. Bukan sebuah kewajiban lagi.

Berbicara tentang fitrah (sesuai judul diatas) oleh Ust Harry dijelaskan maknanya, ada yang mengatakan fitrah itu netral, ada juga fitrah negatif dan ada juga yang berpendapat penuh kebaikan (positif). Akhirnya beliau mengambil kesimpulan dari sebagian besar pendapat ulama bahwa fitrah itu baik (positif). Apabila kita fokus padanya maka ibarat kita fokus pada sebuah cahaya, semakin lama ia akan semakin bersinar menerangi semesta. Masalahnya justru selama ini kita lebih fokus pada kegelapan.

Ada sebuah fakta mencengangkan dari Lulusan terbaik harvard university. Kita tahu bahwa alumni harvard sangatlah cerdas, orang terpilih. Diambillah 19 lulusan terbaik Harvard, dipantau selama kurang lebih 15 tahun. HAsilnya? 50% dari mereka mengalami kebangkrutan, 50% nya lagi terbagi menjadi 2 : yaitu dipenjara sebab melakukan manipulasi angka/data, sisanya bunuh diri. Naudzubillahimindzalik.

Artinya apa? cerdas secara intelektual saja tidak cukup. Ada 2 poin penting lainnya yakni fitrah dan adab. dua hal tersebut hanya didapatkan di rumah, di keluarga.

Fitrah sendiri artinya suci. Apabila ia diasah akan mengahasilkan sosok anak yang inspiratif, penuh antusias. Contoh, anak yang suka membaca, cinta membaca akan terus membaca buku hingga akhir hayatnya. Berbeda anak yang (dipaksa) bisa membaca, setelah ia bisa membaca sudah ia akan berhenti disana.

Pun sebaliknya, fitrah juga bisa padam cahayanya. Ia menghasilkan sosok anak robotik, mechanism. Contoh, anak yang dipaksa masuk pesantren. Tidak menerima dengan sepenuh jiwa, ia akan merasa bebas dan senang pada saat ‘libur telah tiba’ serta meninggalkan kebiasaan yang secara mekanik ia lakukan setiap hari di pesantren. Muncullah kalimat “aku kan sudah sholat tahajud di pesantren, liburlah kalo udah di rumah..” dst.

Pun demikian terkait usia aqil baligh, Ust. Harry mengatakan bahwa terjadi turbulensi (perputaran/kebingungan) anak antara usia 10 hingga 25 tahun. Pada saat itu perkembangan biologis anak mengalami kemajuan pesat, sedangkan psikologisnya tidak. Jadi ada fase menunggu disana. Belum lagi godaan yang luar biasa dari berbagai sisi (mulai dari film, gaya hidup, lingkungan pertemanan, game hingga narkotika) yang sulit anak-anak hindari.

Padahal, di zaman dahulu terdapat beberapa tokoh pemuda yang justru cemerlang di masanya. Katakanlah sosok pemuda Al-khawarizmi (algoritma) , Imam Syafi’ie (pedagogi kritis), Imam Ghazali (pendidikan), Muhammad Al-Fatih (penakluk konstantin), Hasan Al-Banna (Tarbiyah) dll. Tokoh pemuda Indonesia juga demikian banyak, dari HOS Cokroaminoto, Muhammad Natsir, Ki Hajar Dewantara dan tokoh sumpah pemuda. Artinya mereka melewati fase pendidikan fitrahnya dengan baik.

Apabila kita mau belajar dari shirah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat, rata-rata beliau-beliau sudah mencapai tahap mukallaf antara usia 12-17 tahun. Mandiri, matang dan sudah siap membangun peradaban (menikah). Contoh terbaik adalah Rasulullah, dimana beliau belajar berdagang pada usia 12 tahun, kemudian menginjak 17 tahun sudah menjadi business owner, menikahi Khadijah dengan mahar luar biasa (senilai 50 milyar rupiah). MasyaAllah..

“Tiada yang kebetulan di Muka Bumi…” kata Ust. Harry

Terdapat pesan khusus mengapa ALlah menciptakan manusia di muka bumi. Bahkan alasan khusus kenapa kita dilahirkan di abad ke 19, 20 dst. Intinya adalah supaya kita senantiasa beribada padaNya dan menjadi khalifah di muka bumi. Misi atau tugas manusia disini tidak lain adalah memberi manfaat dan rahmat kepada oranglain dan lingkungan.

Ust. Harry menceritakan tentang fenomena zaman. Sebelum muka bumi dihuni oleh manusia, semua binatang dan tanaman tumbuh besar-besar. “pada akhirnya yang besar-besar itu dikecilkan, diturunkan hingga sesuai dengan kebutuhan manusia. Bahkan kadar oksigen, karbondioksida dan hidrogen diatur sedemikian rupa.” tambah Ust. Harry. MasyaaAllah…

Untuk membuat misi, kita perlu memahami diri kita, kelebihan, passion dll. Contoh Pak Rudy Habibie, sejak kecil menekuni otomotif, bidang kesukaannya pesawat terbang, konsisten hingga beliau mampu membuat pesawat terbang di usia mudanya. Saat beliau sudah berusia senja, justru semakin produktif. Tidak sendiri, namun semua itu beliau turunkan kepada generasi penerusnya (Ilham Akbar Habibie).

IMG-20180428-WA0054

Fitrahnya manusia adalah menerima agama dengan baik (islam). Maka apabila seseorang kesulitan memahami agama islam, bisa dikatakan ada fitrah yang terganggu pada masa pembentukan (0-6 thun) nya. Maka pada usia 0-6 tahun kita fokus pada penguatan fitrah anak.

Fitrah ini akan mengantarkan setiap individu menemukan misi hidupnya, menjalankan perannya dengan baik dan memberikan manfaat pada kehidupan. Sayangnya masih banyak sistem pendidikan yang belum sesuai dengan fitrah based education ini, ini PR kita bersama.

Contoh menanggapi masalah kenakalan anak, labeling pada anak seringkali adalah ‘warisan’ sistem pengasuhan dari masa ke masa. Menurut Ust. Harry, “justru kenakalan pad aanak itu merupakan potensi yang belum nampak, maka perbanyaklah bersyukur. ganti kosakata negatif menjadi doa terbaik.”

Misalnya, saat anak suka berbicara maka anggaplah itu potensi ‘diplomat, pembawa acara terkenal’, atau anak suka bereksperimen (menumpahkan segala macam barang) sebut saja sebagai ‘scientist’ dll. Sebab kata-kata = doa, apalagi yang diucapkan oleh seorang ibu..

Ust. HArry memaparkan juga kandungan dari surat Al-Fatihah tentang makna ‘jalan’. Dalam menentukan misi juga demikian, tentukan jalannya dulu baru kemudian caranya. Untuk caranya pilih yang paling disukai, cepat dan efektif (yakni dilihat dari bakat). Untuk memudahkan menentukan jalan hidup kita, berikan pertanyaan “mengapa?” (Why). Semakin detail alasan kita, maka semakin kuat jalan yang kita tempuh, ngga akan mudah mati di tengah jalan.

Terakhir, Ust. Harry menutupnya dengan sebuah puisi

Jelaskan maknamu

Bukan keraskan suaramu

Karena deras hujan yang menumbuhkan

Bukan petir ataupun gemuruh.

Semoga bermanfaat

Detail FBE ada di buku beliau yang terbaru, Fitrah BAsed Education. *baru baca halaman pertama udah mewek wkkwk. semoga next time bisa kita bahas lagii

Salam.

Khoirun Nikmah