Daily Dose of Shine

Buku ini baru datang tanggal 23 Mei kemarin lusa, pas beres buka puasa dan sholat maghrib. Seharian agenda padat dari pagi hingga sore, akhirnya kepala nyut=nyutan kurang cairan (ya iyalah lagi puasa hahaha). Beres iftar masih rada pusing juga, akhirnya nerima paket buku dengan sedikit tergesa. Siapa tau ada obatnya.

Paket yang datang ngga hanya satu buku ini, tapi ada buku ka Fuadi yang lain. Saya beli (lagi) buku negeri 5 menara dan lanjutannya (3buku) serta buku beasiswa 5 benua. Paket yang satunya bukan buku, melainkan sedotan stainlis. Hihihi

Buku pertama yang saya buka adalah Daily Dose of Shine ini. Hardcover dan full colour, cukup mengobati kepala yang lagi migren.

Beres baca buku ini sakit kepala mulai berangsur pulih, ajaib ya! hahaha yaa emang obat sakit kepala saya biasanya baca buku baru dan buku yang menyenangkan.

Apa isinya?

Ngga jauh-jauh dari novel ka Fuadi, isinya quotes yang ada di novel yang diilustrasikan. Sangat menarik, ringan dan pas banget menemani sehari-hari. Karena memang jarang (atau belum ada?) buku yang berisikan quotes aja di Indonesia. Biasanya quotes kan hanya menemani buku-buku fiksi atau non-fiksi, bukan sebagai pusat perhatiannya.

Isi buku ini berupa pepatah arab dan non-arab bahkan anonim yang mampu menggugah semangat berbuat kebaikan dalam keseharian.

Cocoklah, dosis harian ini. Karena saya ga perlu lagi gugling, search atau menulis ulang (di buku diary- udah lama ga berdiary dan ga pernah menynetuh diary- hilang).

Quotes yang paling saya suka adalah “berbuat baiklah, lalu lupakan dengan melemparkannya ke laut” (Pepatah Palestina)

 

Oiaaa, ada bonusnya jugaa yaitu jurnal harian. Bisa kita jadikan notes sehari-hari.

Penampakan jurnalnya, imut-imut gitu..

Okeh, sekian aja dari saya. Mau nulis panjang tar malah jadi cerpen hehehe. Intinya saya suka buku ini, untuk mengenalkan ke anak remaja juga asyik. Ringan tapi poinnya dapat.

Ngomongin poin, saya rekomendasikan 9/10 yaa untuk buku keceh diatas.

Dagh~

Iklan

Untuk Shokyuu Batch 1

keep ontrack

Hai mina-san, konbanwa. Mendadak menuliskan post disini sebagai sambutan pada para wisudawan dan wisudawati yang malam ini berkumpul bersama dalam satu grup ‘graduation’. Banyak hal yang ingin saya sampaikan malam ini, namun saya membaginya menjadi 3 poin saja.

Pertama, sebagai pemateri sekaligus tim pemateri saya sampaikan terimakasih kepada semua yang telah mendaftarkan diri di batch 1. Jumlah peserta pendaftar ada 162 peserta, namun saya hitung di google classroom terdapat 166 peserta (mungkin ada yang double email atau double masuk ya, ini menjadi evaluasi terkait classroom). Adapun tentang materi, saya membutuhkan feedback dari teman-teman semua. Saran dan masukan bisa email ke nikmah11@gmail.com yaa saya tunggu segera πŸ™‚

Kedua, tentang peserta yang lulus dan belum lulus. Saya yakin semua peserta kelas intensif mendaftarkan diri di awal untuk berkomitmen tuntas dalam berkonmari. Baik yang sudah tuntas di awal maupun yang akan tuntas pada kelas ‘remedial’ mendatang saya sampaikan ‘ganbarimasyou!’ segala proses yang telah dikerjakan ngga akan pernah mengkhianati hasil. Bedanya, hasil di shokyuu ini ngga bisa dinilai dengan angka-angka, hanya teman-teman semua yang mampu merasakannya, maka nikmati prosesnya, perjalanan masih panjang. Untuk semua peserta batch 1 tetaplah menjadi keluarga batch 1, oleh sebab itu bagi yang remedi nanti tidak akan kami campur dengan batch 2. Keep fightung ya πŸ™‚

Ketiga, tentang keberlanjutan level. Dengan menimbang, melihat dan mencoba berhitung maka selama 2 pekan ke depan saya berikan kesempatan teman-teman yang ingin lulus shokyuu dan naik di level chukyuu untuk mengikuti proses remedial. Adapun yang merasa tidak terkejar selama 2 pekan ke depan maka nanti mengikuti kelas khusus batch 1 yang mengulang 1x. Bagi yang tidak ingin remedi maupun tidak mengambil kesempatan mengulang, kami akan memperbaiki akad di awal.

cropped-report.png

Sekali lagi, selamat kepada 93 peserta yang lulus malam ini πŸ™‚ dan semangat bagi peserta yang akan mengikuti remedial.

Salam, spark joy. Menata diri, Menata Negeri.

“There’s no reason to hold yourself back and say you can’t do something in life unless you go for it and try to do it.” – Russel Westbrook.

Target Baca

Banyak buku baru di rumah, yay!! Tapi.. masih ada (banyak) buku bulan sebelumnya yang belum sempat saya baca… *)tetiba hening, krik,krik

Idealnya sehari bisa kelar satu buku, atau minimal sepekan dua bukulah… idealnya begitu, namun apa dayaa…diri ini cepat sekali merasa lelahhh. Padahal kalo mau membandingkan mobilitas padat dan cepat justru jaman jomblo dulu aktifitas bejibun ngga berhenti-brenti tiap hari. Jalan kaki pun dilakoni dari kosan-kampus-ngelesi dan nyari tambahan uang untuk kebutuhan hidup.

Sekarang? enak dong didalam rumah, main sama anak, seharusnya lebih banyak waktu luang untuk membaca, ya kann..ya kannn… *meyakinkan diri sendiri

Faktanyaa? bangun pagi, tidur terakhir hingga larut malam. Hanya bisa begadang sendirian seperti ini. Kerjaan juga ngga habis-habis, bukan masalah domestik sih, domestik mah biasa aja tapii amanah se-abrek abrek ini yang membuat diri yang lemah multitasking ini harus berfikir dan bertindak akurat. Hitung-hitungan waktu. Padahal… ibadah juga ngga rajin amat 😦

Sebentar lagi Ramadhan, semoga semua deadline diri ini segera selesai. SYukur-syukur bisa khusyu’ beribadah sebulan penuh.. dan menuntaskan target baca.

Bulan Mei ini ada sekitar 10 buku yang harus saya tuntasin. Supaya ngga jadi beban pikiran πŸ˜€ dan supaya bisa beli buku lagi dan baca buku lagii hihihihi..

Yuuk baca buku, biar anak juga terbiasa baca.. minimal suka sama bukunyaa πŸ˜€

Note : di rumah ngga menyediakan TV, maka setiap hari hanya buku yang menjadi hiburan kami.

IMG_20180331_124430

Sulitnya Multitasking

Bulan ini banyak deadline, banyak janji yang harus saya penuhi. Gak seperti jaman jomblo, semuanya longgar bebas dan tenaga super full energy. Sekarang tantangannya banyak. Terpenting perut ngga keroncongan, aman.

Bulan April jarang nulis, seringnya baca aja. Ngedraf iya, tapi ngga kelar kelarr. Jadi yaa gini gini aja tiap hari, sok multitasking padahal roaming wkwkwk

Well, saya ngga sejago suami yang bisa ngerjakan banyak hal dalam satu waktu beres semua. Hasil test bakat ditalents mapping saya nih orang focus, jadi klo dipaksa multitasking bakal buyar semua 😭

itulah kenapa kalo saya nyuci, maka gak bakal beres masakan di dapur. Padahal tinggal putar mesin, tinggal beres. Logikanya gitu. Kenyataannya tiap coba masak, nyalai mesin cuci yang ada itu mesin jadi ngadat (nggatau apa salah saya πŸ˜‚) atau kebanyakan sabunlah, tumpahlah dll. Pun sebaliknya, nyuci oke, masakan ngga matang (dan lebih banyak gak enaknya).

Kemarin, pas suami dinas ke semarang dua hari..saya coba bikin kue bolu untuk anak. Hasilnya gosong 😭 dan anak ngga suka rasanya.. #mubazirdeh

So, saya atur lagi ini trial & error tiap hari sampai menemukan pola yang pas khusus diri ini yang sulit multitasking.

Next time saya bahas lagi. Beberapa udah saya share sih, salah satunya menggunakan post it atau daily whiteboard. 

Selanjutnya pakai jurus lain. Kapan kapan dibahas kalo akurasinya udah pas. Tapi bisa cocok di saya belum tentu cocok untuk oranglain, kan kebanyakan makmak justru keren tuh multitaskingnya ❣️

Oke, agenda bulan ini lebih banyak seremonial. Semoga sehat selalu. amin

Seminar Fitrah Based Education

Pada hari Sabtu tanggal 28 April 2018 lalu saya hadir di acara yang seru dan penuh ilmu. Sekaligus datang dalam rangka wisuda matrikulasi batch 5, yay! lulus!

Berangkat pagi bersama suami dan anak naik mobil online, perjalanan sekitar 1jam sebab berhenti-berhenti. Di SPBU dan juga Alfamart. Sampai di lokasi (gedung Inovasi LIPI Cibinong) saya ngga langsung naik, ngobrol dulu sama teman dari kelas lain. Kemudian naik sekitar jam 8 siap untuk mengikuti agenda seminar, namun suami ngga ikut seminar jadi bermain sama anak di luar – sebab anak kami ngga bisa duduk diam didalam ruangan. Maka hanya saya saja yang masuk mengikuti seminar penuh dari jam 9 pagi hingga jam 2 siang. Tapi beruntung, didalam ruangan langsung ada teman sekelas (duduk jejer mba Wulan dan Ulul -miip klas 2).

Acara dibuka dengan ‘ice breaking’ game mencatat nama dan tanggal lahir peserta, saya dapat 10 orang dan ternyata dapat doorprize brupa bangnana chip (nyummyy~ asiik) kemudian dilanjutkan sambutan oleh ketua IP Bogor, Mba Finny.

Sebelum proses wisuda Ust. Harry menyampaikan sepatah dua kata. Beliau mengatakan lebih enak menyebutkan kata ‘ibu sejati’ untuk kami. Kenapa? sebab tugas atau peranan ayah/ ibu sejati adalah mengantarkan generasi sesuai dengan peran dan maksud sejati hidupnya (meaning of life).

Dan acara yang ditunggu sebagian besar peserta adalah prosesi wisuda~ yayy!! *)backsound lagu graduation πŸ˜€

Dimulai dari klas bunda sayang dan dilanjutkan oleh klas matrikulasi (kelas 1,2 dan 3). Disini saya deg-degan memberikan testimoni proses selama belajar matrikulasi. Walaupun mendadak, efek semalaman ngga prepare, paginya dilanda perut mules juga (berhenti=berhenti di jalan -_-) maka dua menit pun agak zonk! wkwkwk. Tapi intinua dapetlah hehehe. Intinya saya seneng bisa naik kelas, tar lanjut di bunsay amiin.

IMG-20180428-WA0067

Wisuda beres, poto-poto maka acara inti pun berlangsung, cukup seru. Dimoderatori oleh Mba Athy, Ust. Harry memaparkan dari fakta jaman now. Apakah ituu? yap, tentang perceraian!!

Saya sendiri ngga heran oleh fakta itu, sebab ayah ibu saya pun bercerai saat usia saya dua tahun, sik bayik, HEhehe. Pun saudara, teman dan beberapa kenalan yang saya kagumi juga endingnya banyak yang bercerai. Ngga kenal sholeh or sholeha, perceraian itu momok banget kok. Saya mengenal salah satu penulis terkenal- anaknya bunda Pipit Senja- yang menikah muda, semester awal di UI sudah punya 3 anak ternyata tahun lalu bercerai. Ngga tau apa penyebab intinya semua kalangan bisa melakukannya.

Menurut Ust. Harry terdapat 2 poin penting penyebab perceraian, yaitu tidak adanya misi dalam berumah tangga dan tidak ada proses pendidikan didalamnya.

Misi itu penting sebab ia ajeg dan mengantarkan seseorang pada nilai kehidupan. Ngga akan mati jika visi gagal, sebab masih banyak jalan. Dan proses pendidikan (saya dan suami menyebutnya ‘pembinaan’ klo didalam rumah :D) sangat menentukan peran dan aktifitas setiap anggota keluarga. Ust. Harry mengatakan, “memang agak miss, setiap orangtua mengharapkan anaknya baik dan sholeh setelah keluar dari gerbang sekolah, sedangkan sekolahan mengharapkan anak-anak siap menerima ilmu (adabnya, akhlaknya udah okeh dari rumah) setiap masuk kedalam pintu gerbang sekolah. Ngga match!”

Apabila peradaban barat mengatakan anak harus mandiri (termasuk biaya sekolah mencari sendiri) pada usia 12 tahun (jews) sebab tuntunan nilai kehidupan mereka. Islam pun memiliki rambu-rambu dalam masa akil baligh yakni usia 15 tahun. Jadi, setelah anak berusia 15 tahun, segala harta yang kita berikan padanya jatuhnya adalah sedekah untuk anak. Bukan sebuah kewajiban lagi.

Berbicara tentang fitrah (sesuai judul diatas) oleh Ust Harry dijelaskan maknanya, ada yang mengatakan fitrah itu netral, ada juga fitrah negatif dan ada juga yang berpendapat penuh kebaikan (positif). Akhirnya beliau mengambil kesimpulan dari sebagian besar pendapat ulama bahwa fitrah itu baik (positif). Apabila kita fokus padanya maka ibarat kita fokus pada sebuah cahaya, semakin lama ia akan semakin bersinar menerangi semesta. Masalahnya justru selama ini kita lebih fokus pada kegelapan.

Ada sebuah fakta mencengangkan dari Lulusan terbaik harvard university. Kita tahu bahwa alumni harvard sangatlah cerdas, orang terpilih. Diambillah 19 lulusan terbaik Harvard, dipantau selama kurang lebih 15 tahun. HAsilnya? 50% dari mereka mengalami kebangkrutan, 50% nya lagi terbagi menjadi 2 : yaitu dipenjara sebab melakukan manipulasi angka/data, sisanya bunuh diri. Naudzubillahimindzalik.

Artinya apa? cerdas secara intelektual saja tidak cukup. Ada 2 poin penting lainnya yakni fitrah dan adab. dua hal tersebut hanya didapatkan di rumah, di keluarga.

Fitrah sendiri artinya suci. Apabila ia diasah akan mengahasilkan sosok anak yang inspiratif, penuh antusias. Contoh, anak yang suka membaca, cinta membaca akan terus membaca buku hingga akhir hayatnya. Berbeda anak yang (dipaksa) bisa membaca, setelah ia bisa membaca sudah ia akan berhenti disana.

Pun sebaliknya, fitrah juga bisa padam cahayanya. Ia menghasilkan sosok anak robotik, mechanism. Contoh, anak yang dipaksa masuk pesantren. Tidak menerima dengan sepenuh jiwa, ia akan merasa bebas dan senang pada saat ‘libur telah tiba’ serta meninggalkan kebiasaan yang secara mekanik ia lakukan setiap hari di pesantren. Muncullah kalimat “aku kan sudah sholat tahajud di pesantren, liburlah kalo udah di rumah..” dst.

Pun demikian terkait usia aqil baligh, Ust. Harry mengatakan bahwa terjadi turbulensi (perputaran/kebingungan) anak antara usia 10 hingga 25 tahun. Pada saat itu perkembangan biologis anak mengalami kemajuan pesat, sedangkan psikologisnya tidak. Jadi ada fase menunggu disana. Belum lagi godaan yang luar biasa dari berbagai sisi (mulai dari film, gaya hidup, lingkungan pertemanan, game hingga narkotika) yang sulit anak-anak hindari.

Padahal, di zaman dahulu terdapat beberapa tokoh pemuda yang justru cemerlang di masanya. Katakanlah sosok pemuda Al-khawarizmi (algoritma) , Imam Syafi’ie (pedagogi kritis), Imam Ghazali (pendidikan), Muhammad Al-Fatih (penakluk konstantin), Hasan Al-Banna (Tarbiyah) dll. Tokoh pemuda Indonesia juga demikian banyak, dari HOS Cokroaminoto, Muhammad Natsir, Ki Hajar Dewantara dan tokoh sumpah pemuda. Artinya mereka melewati fase pendidikan fitrahnya dengan baik.

Apabila kita mau belajar dari shirah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat, rata-rata beliau-beliau sudah mencapai tahap mukallaf antara usia 12-17 tahun. Mandiri, matang dan sudah siap membangun peradaban (menikah). Contoh terbaik adalah Rasulullah, dimana beliau belajar berdagang pada usia 12 tahun, kemudian menginjak 17 tahun sudah menjadi business owner, menikahi Khadijah dengan mahar luar biasa (senilai 50 milyar rupiah). MasyaAllah..

“Tiada yang kebetulan di Muka Bumi…” kata Ust. Harry

Terdapat pesan khusus mengapa ALlah menciptakan manusia di muka bumi. Bahkan alasan khusus kenapa kita dilahirkan di abad ke 19, 20 dst. Intinya adalah supaya kita senantiasa beribada padaNya dan menjadi khalifah di muka bumi. Misi atau tugas manusia disini tidak lain adalah memberi manfaat dan rahmat kepada oranglain dan lingkungan.

Ust. Harry menceritakan tentang fenomena zaman. Sebelum muka bumi dihuni oleh manusia, semua binatang dan tanaman tumbuh besar-besar. “pada akhirnya yang besar-besar itu dikecilkan, diturunkan hingga sesuai dengan kebutuhan manusia. Bahkan kadar oksigen, karbondioksida dan hidrogen diatur sedemikian rupa.” tambah Ust. Harry. MasyaaAllah…

Untuk membuat misi, kita perlu memahami diri kita, kelebihan, passion dll. Contoh Pak Rudy Habibie, sejak kecil menekuni otomotif, bidang kesukaannya pesawat terbang, konsisten hingga beliau mampu membuat pesawat terbang di usia mudanya. Saat beliau sudah berusia senja, justru semakin produktif. Tidak sendiri, namun semua itu beliau turunkan kepada generasi penerusnya (Ilham Akbar Habibie).

IMG-20180428-WA0054

Fitrahnya manusia adalah menerima agama dengan baik (islam). Maka apabila seseorang kesulitan memahami agama islam, bisa dikatakan ada fitrah yang terganggu pada masa pembentukan (0-6 thun) nya. Maka pada usia 0-6 tahun kita fokus pada penguatan fitrah anak.

Fitrah ini akan mengantarkan setiap individu menemukan misi hidupnya, menjalankan perannya dengan baik dan memberikan manfaat pada kehidupan. Sayangnya masih banyak sistem pendidikan yang belum sesuai dengan fitrah based education ini, ini PR kita bersama.

Contoh menanggapi masalah kenakalan anak, labeling pada anak seringkali adalah ‘warisan’ sistem pengasuhan dari masa ke masa. Menurut Ust. Harry, “justru kenakalan pad aanak itu merupakan potensi yang belum nampak, maka perbanyaklah bersyukur. ganti kosakata negatif menjadi doa terbaik.”

Misalnya, saat anak suka berbicara maka anggaplah itu potensi ‘diplomat, pembawa acara terkenal’, atau anak suka bereksperimen (menumpahkan segala macam barang) sebut saja sebagai ‘scientist’ dll. Sebab kata-kata = doa, apalagi yang diucapkan oleh seorang ibu..

Ust. HArry memaparkan juga kandungan dari surat Al-Fatihah tentang makna ‘jalan’. Dalam menentukan misi juga demikian, tentukan jalannya dulu baru kemudian caranya. Untuk caranya pilih yang paling disukai, cepat dan efektif (yakni dilihat dari bakat). Untuk memudahkan menentukan jalan hidup kita, berikan pertanyaan “mengapa?” (Why). Semakin detail alasan kita, maka semakin kuat jalan yang kita tempuh, ngga akan mudah mati di tengah jalan.

Terakhir, Ust. Harry menutupnya dengan sebuah puisi

Jelaskan maknamu

Bukan keraskan suaramu

Karena deras hujan yang menumbuhkan

Bukan petir ataupun gemuruh.

Semoga bermanfaat

Detail FBE ada di buku beliau yang terbaru, Fitrah BAsed Education. *baru baca halaman pertama udah mewek wkkwk. semoga next time bisa kita bahas lagii

Salam.

Khoirun Nikmah

 

 

#Modyarhood: Kangen Anak Saat…

IMG_8175

Siang ini beres ngisi training konMari di mak mak majlis ta’lim *elap keringat dulu, huh hah! hahaha.. saya refreshing sebentar baca-baca blog mbak Puty Puar, eh ngga langsung baca blognya tapi klik IG nya dulu ding. Dari IG akhirnya saya baca postingan terbaru mbak Puty tentang #Modyarhood wkwkwk. Aselik nih saya baru tau ada program curhat begitu. Tau gitu saya ikut sejak dulu, soalnya nih penting banget.. selama ini saya sukanya curhat sendirian. Krik krik di blog sendiri, xixi..

Okeh, seperti yang disampaikan pada peraturan lombanya maka saya akan share link URL dari blog mba puty disini. Dan juga mbaLilo yang ini.

Selanjutnya saya mau cuap-cuap sebagaimana judul post diatas πŸ˜€

Oia karena ini pertama kalinya saya ikutan curhat, saya mau kenalan dulu. Siapa tau ini post blog dibaca ama mba Puty or mba Lilo πŸ˜€ *kepedean wkwkwk

Nama saya Khoirun Nikmah atau biasa dipanggil Nikmah alias NikNik. Seorang mamak (agak muda) jaman now yang lulus es satu 2014 lalu. Karena beres yudisium saya nikah, trus gak boleh kerja keluar rumah yaudah nganggur, ijazah belum dipakai apapun hehehe. Sempat mau lanjut es dua tapi saat itu belum tau tujuan ke depan jadilah batal apply. Nunggu wangsit dulu untuk pilih jurusan dan kampus yang cucok (plus beasiswa). Tahun ini wangsit udah mulai nampak, semoga ada jalan. Amiin..

Oia, saya sempat bete didalam rumah. Karena ngga langsung punya anak, jadilah saya menikmati masa pacaran dulu dengan mas suami. Plus coba adaptasi di lingkungan jawa barat, sambil ngurus katepe pindahan jatim ke jabar, belajar bahasa sunda walopun sampe detik ini kagak bisa ngucap sepatah katapun -_- #plaaak (yaiyalah sehari-hari di Bogor tetangga satu gang hampir 80% bukan asli sunda. Huahahaa

Anak saya lahir tepat hari anak nasional, tanggal 23 Juli 2015. Detik itu juga resmilah jadi mamak-mamak. Serunya disini nih, sejak kecil saya nggak terlalu banyak berinteraksi dengan orang kann…. Orang bilang sok autis gitu. Menjelang remaja lebih suka didalam rumah membaca buku, ngga suka nongkrong seperti yang lain. Pas kuliah juga ngga pernah belajar cara merawat bayi, kalo merawat bangunan kapal sih yes, organisasi yes. Tetiba punya anak dari rahim sendiri dan itu kudu wajiib diurus! oh maaak.. belajarlah dari noool. Namun saya bersyukur sebab suami sangat support. Dari latar belakang juga sih sebenarnya.. saya adalah anak tunggal, sedangkan suami punya tujuh kakak plus tujuh adik yang biasa ia rawat, tugas rumah didelegasikan padanya. Oke saling melengkapi. Komplit cucok meong sego iwak endog πŸ˜€

Apakah berhasil dengan support dari suami?

Ngga juga ding, saya suka uring-uringan jika ada yang salah. Merasa ngga bisa apa-apa gituu. Ngerawat anak nol, masak pun nol. Saya ngga minat banget dengan aktifitas memasak juga, maka sejak saat itu urusan dapur dihandle suami. -_-

Oia, si bayik unyu laki-laki anak pertama saya bernama M. Syahid Al-Fatih. Awalnya dipanggil Fatih, tapi saking banyaknya bayi seangkatan yang bernama Fatih saat itu -_- maka ‘ngalah’ dah kami memanggilnya Syahid.

IMG-20151215-WA0011

Syahid full ASI, lincah, rasa ingin tahunya tinggi, suka meniru, bahkan emosinya pun mirip dengan saya. PR banget buat lebih berhati-hati dalam bersikap 😐

Saat ini usianya 2,5 tahun lebih, 4 bulan lagi Syahid berusia 3 tahun. Karena udah lewat fase bayi (0-2tahun) dan kini menuju fase batita maka Syahidpun juga suka menirukan aktifitas yang ia lihat. Dia suka membantu meringankan pekerjaan saya #aseeek, jika ada jemuran yang baru diangkat, biasanya langsng saya lipat maka dia pun ikutan melipat. Melipat baju ‘ala konmari’ walaupun hasilnya dia yaa mirip roti gulung -_-

Ada momen yang sangat saya rindukan bersama Syahid, yaitu pada usia 0-2 tahunnya wabilkhusus saat terakhir menyapih. Saking ingin cepat beresnya dari ‘tanggungjawab’ menyusui, ditambah saat itu saya sudah merasa kering ini ASI. Ditambah jumlah giginya yang mulai lengkap. Maka saya percepat itu proses sapihnya. Dari bulan ke 20.

Ngga pakai cara mainstream sebagaimana yang disarankan ortu : pakai pewarna, kunyit, dikasih jamu atau apapun itu.. saya hanya mengurangi intensitas ngASI aja. Dari yang ngASI setiap hari sebelum bobo, saya ganti dengan memberikan segelas air putih atau susu. Awalnya Syahid nangis guling-guling, okelah akhirnya molor sepekan. Hingga tepat pada bulan ke-24 – lebih sepekan, Syahid benar-benar lepas ASI. Dan sebagai gantinya adalah.. ngisep jempol 😦 *disini saya merasa bersalah, hiks.

Hingga detik ini Syahid tetep ngisep jempol menjelang tidur. Hanya menjelang tidur saja, fiuuh .. gak kebayang kalo dia ngisep jempol sepanjang hari, bisa-bisa itu giginya maju ke depan wkwkw *eh bener gak ya? atau jangan-jangan hanya mitos? -__-”

Intinya saya kangen masa-masa ngASI. Sebab ngASI dipercaya sebagai proses bonding terbaik bayi bersama ibunya. Selain itu juga dipercaya sebagai obat mujarab bobok mamak mamak ter-ajiib, boboin anak sambil ngASI. Maka otomatis mata jadi ngantuk dan syiiutttt~ lelap juga.

IMG_20180311_091431

Empat bulan lagi Syahid menginjak usia 3 tahun. Masih banyak pe-er untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.

berbicara modyar hood, momen sehari-hari saya termodyar adalah saat asyik ngadep laptop – membuat tulisan atau kurikulum kekonmarian.. eh Syahidnya ngajak main. uhuhuhu.. yaudah dadah bye! Toh main bareng anak juga ngga sampai lama.

Biasanya bisa juga saya alihkan, dengan memberikannya ‘mainan khusus’ favooritnya. Misalnya tutup panci plus pancinya -panci beneran- (murah meriah πŸ˜€ ) agar bisa dibunyikan atau dibuat masak *ngukus. Ih laki-lkai kok suka masak? saya juga heran kenapa bgitu Setelah diselediki ya wajar itulah efek kegiatan di rumah, setiap hari anak sering melihat abinya masak, dia meniru. Hampir setiap hari dia meminta panci untuk memasak juga. Apa yang dimasak? Lego dan robot -_- katanya suka bikin kue robot. Okelah, fine, toh nggak dimakan beneran :p

Oia ada quotes menarik yang pernah saya denger -ntah dimana- #lupa bahwa Bukanlah karena melahirkan anak, kita disebut sebagai ibu. Melainkan sebab adanya anaklah, kita dipanggil sebagai ‘ibu’.

Ya betul juga sih, dipikir-pikir juga benar. Dan yang pasti nih sebab dengan adanya anak juga, saya semakin semangat belajar, lebih mampu mengenal diri sendiri, menggali potensi diri dan memetakan waktu dengan seoptimal mungkin. Supaya anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Dan saya simpulkan dari berumahtangga 3,5 tahun ini adalah kebahagiaan yang hakiki bukan didapatkan dari oranglain (bukan suami, bukan pula anak atau siapapun), kebahagiaan itu didapat melainkan dari dalam diri (dengan cara meramu suasana hati ‘informasi ataupun peristiwa’ dengan baik). 

Sekeras apapun orang di sekitar kita support, jika diri sendiri belum punya kesadaran berubah yaa gak bakal berubah, gak bakal happy. Pun sebaliknya, jika kita mau happy, sesulit apapun yang ada di hadapan mata nggak akan mengubah esensi suasana hati. Always be happy πŸ™‚

Mungkin itu aja curcolan singkat ala mamak-mamak #modyarhood. Semoga ada yang bisa diambil manfaatnya, jika ngga ada manfaatnya yaa.. skip aja πŸ˜€ angap aja baca cerpen. wkwkwk.

Okeh, dadah!

Salam #Modyarhood

Khoirun Nikmah, Bogor 22 April 2018.

 

 

Melepas Lelah = Nulis

Sejenak mencoba melepas lelah, beberapa hari ini saya sok sibuk di depan laptop. Padahal nggak ngapa-ngapain, hanya melototin tulisan dan beberapa ebook. wkwkwkk

Sekedar mengeluarka Β uneg uneg aja, pasalnya saya bukan orang yang suka ngomel dengan suara. cukup dengan jempol ini bergerak diatas screen wordpress, sudah mewakili diri.

April ini malah sedikit sekali tulisan pada blog ini, sepekan lalu ngedraft aja. Jadilah ini macam sarang laba-laba yang sudah saatnya dibersihkan (go publish).

Saya mau review agenda 3 pekan april ini. Buat catatan pribadi supaya ke depannya bisa lebih disiplin lagi dalam menulis blog.

Awal april jatuh pada hari minggu. Nggak kemana-mana hanya didalam rumah. Jadwal normal seperti pada bulan sebelumnya, senin, selasa dan kamis ngajar paud. Sabtu dan minggu saya mengisi konMari di dua masjid, sabtu di bogor, minggu di Kota Depok.

Pekan kedua saya mabit membenahi bacaan Alquran, ikut dauroh tajwidul huruf. Kenapa ikutan dauroh, kan udah beres tahsin 1? yaaa supaya lebih mendalami lagi. Dan ternyata emang buanyak koreksinya T_T (jadi selama ini saya baca alquran salah baca = salah makna dong, hiks).

Tanggal belasan (11 s.d 13) seperti biasa saya ngorderin paket arisan grup rktim. Semoga akhir bulan ini nembus 150 unit amiin, saat nulis ini masih sekitar 90an unit.

Pekan ini (21-22) saya kembali berkeliling masih sekitar Bogor untuk sharing konMari lagi. Hari sabtu di kajian ibu-ibu, hari minggu di masjid komplek sendiri. Selasa di Depok.

Hampir tiap pekan agenda saya selalu keluar rumah, rata-rata meminta saya mengisi materi konMari.

Kenapa? bebenah masih aja belajar?

Ya sebab konMari sangat relevan dengan kondisi manusia jaman now. Nggak minimalis banget, rasional tapi happy ending-lah. Wabilkhusus emak-emak yang kesehariannya pusing tujuh keliling banyak urusannya. hehehe. konMari membuat hidup diri kita sederhana, tapi bahagia.